Jumat, 18 Maret 2016
Sabtu, 23 Januari 2016
Minggu,24 januari 2015, jam : 12.05
Fenomena - fenomena Psikologi dan Internet : Seks dalam Internet
Kita tahu bahwa dengan adanya internet maka semuanya
terasa tidak terbatas antara ruang dan waktu. Semua dimensi terlampaui oleh
media yang namanya website dan internet. internet menyuguhkan informasi dengan
cara yang lebih menarik. Misalnya, bila ada gambar pada suatu artikel, gambar
tersebut kadang bergerak (animasi). Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari
penggunaan internet karena tersedianya informasi yang lengkap tentang segala
hal. Namun, internet juga memiliki efek buruk seperti tindakan plagiat. Seks
dalam internet, kecanduan online game. Dalam postingan ini, saya akan membahas
mengenai seks dalam internet.
Seks
dalam Internet
Media online sebagai salah satu sarana media baru yang
muncul seiring kemajuan internet. Munculnya media baru ini berpengaruh terhadap
perilaku penyimpangan sosial, khususnya terhadap perilaku seksual dan kehamilan
di usia remaja.
Cybersex,
saat ini telah menjadi sebuah fenomena seksual yang bertumbuh cukup pesat,
terutama di kota-kota besar dimana internet semakin mudah diakses. Apalagi
ditambah pula semakin menjamurnya situs porno,
fasilitas chatting yang menawarkan webcam dan internet
phone.
Bila sudah menjadi kecanduan, cybersex ini
menjadi kombinasi adiksi, yaitu adiksi seks dan adiksi internet, dimana
seseorang secara berulang menggunakan fasilitas internet guna pemuasan hasrat
seksualnya. Secara harfiah, cybersex dapat diartikan sebagai
pemuasan hasrat seksual menggunakan fasilitas internet. Bahkan, fenomena ini
telah merambah dunia bisnis, tentunya untuk meraup keuntungan dari berbagai
jasa yang ditawarkan.
Secara garis besar terdapat 3 kategori cybersex:
- Online porn: gambar porno, dan cerita-cerita erotis
- Real time interaction: chatting dimana topik yang dibicarakan adalah seks, “berhubungan seksual” lewat dunia maya, webcam sex.
- Multimedia-software: game erotis, video porno.
Penyebab adiksi/kecanduan cybersex antara
lain:
1. Aksesibilitas
Saat ini fasilitas internet telah dapat diakses dengan
sangat mudah. Dalam arti dapat dikonsumsi secara publik dari berbagai golongan
sosial tanpa memandang usia, pekerjaan, jenis kelamin, dll.
2. Isolasi
Cybersex menawarkan
kesempatan seseorang untuk terpisah dari orang lain, dan lebih jauh lagi untuk
terperosok lebih jauh lagi dalam hal fantasi seksualnya tanpa takut tertular
penyakit, kehamilan tak diinginkan, dll.
3. Anonim
Kondisi para pelaku cybersex yang
anonim ini membuatnya lebih kecanduan menggunakan internet sebagai fasilitas
pemuas hasrat seksual. Cybersex menawarkan anonimitas, dimana
pelakunya tidak perlu takut dikenali masyarakat bila mengunjungi prostitusi,
mengunjungisex shop, striptease club, dll. Dan identitas di
dunia maya pun dapat dikaburkan.
4. Terjangkau
Saat ini, fasilitas cybersex sangat
terjangkau, dan internet juga cukup murah. Fasilitas chatting gratis,
begitu pula materi-materi porno yang terkandung dalam berbagai situs porno juga
banyak yang dapat dilihat tanpa biaya hingga dapat di-download dengan
cepat. Tentu saja dibandingkan dengan jasa prostitusi yang berbayar dan
berisiko tertular penyakit.
5. Fantasi
Cybersex juga
menawarkan bagi pelakunya untuk berfantasi secara bebas dimana mungkin
fantasinya itu bertentangan dengan norma masyarakat. Termasuk didalamnya adalah
menentukan kriteria fisik lawan jenis yang diinginkan, skenario chat
sex yang akan dinikmati, dll.
Berikut tanda-tanda seseorang yang telah kecanduan
seks via internet, seperti dilansir dari onlymyhealth, antara lain:
1. Menghabiskan
waktu berjam-jam untuk melihat hal-hal yang berbau porno di internet, seperti
video atau foto-foto porno.
2. Orang kecanduan
seks via internet selalu melibatkan diri dalam obrolan seks online. Hal ini
merupakan cara untuk menikmati fantasi seksual sehingga melupakan aktivitas
lainnya karena terlaru larut obrolannya.
3. Akan
berperilaku menjengkelkan jika tidak dapat mengakses internet. Bagi orang yang
sudah kecanduan seks via internet tidak akan bersikap normal jika tidak
menyalurkan keinginan seksualnya dengan berselancar di dunia maya.
4. Orang yang telah
kecanduan seks via internet akan merasa berkurangnya keintiman seksual dan
kesenangan dalam kehidupan nyata. Orang tersebut akan membandingkan kehidupan
nyata dengan kehidupan seks virtual yang membuatnya lebih puas.
5. Selalu
berfantasi tentang seks.
6. Bersikap
defensif ketika orang lain memberitahu bahwa dirinya telah menghabiskan waktu
berjam-jam di internet. Orang yang telah kecanduan seks via internet selalu
takut tertangkap basah oleh orang lain ketika sedang menyalurkan hasrat
seksualnya dan membuatnya bersikap skeptis.
7. Selalu merasa
bersalah tetapi tidak dapat mengendalikan keinginannya untuk berselancar di
dunia maya.
8. Rela
menghabiskan banyak uang untuk mengakses situs-situs porno yang berbayar.
Dampak
Negatif
Tidak bisa dipungkiri internet adalah salah satu
penemuan besar abad ini yang mengubah cara orang hidup. Teknologi ini
mempermudah pekerjaan dan interaksi sesama manusia. Tapi seperti halnya segala
sesuatu, internet juga memiliki wajah buruk atau dampak negatif yang berbahaya.
Bahaya cyber sex akan dirasakan langsung oleh pelaku
dan berdampak langsung pada kehidupan sosialnya. Jika pelaku telah menikah,
melakukan cyber sex dengan orang lain dapat membahayakan pernikahannya. Berikut
ini beberapa dampak negatif melakukan cyber sex yang perlu anda ketahui:
1.
Kecanduan Cyber Sex
Salah satu bahaya cyber sex adalah kecanduan dan ini
adalah salah satu gangguan jiwa dimana penderita mengalami ketergantungan
dengan internet untuk melepaskan syahwatnya. Dan seperti halnya jenis kecanduan
lain, kecanduan cyber sex tentu akan berdampak buruk bagi diri penderita dan
kehidupan sosialnya.
Salah satu ciri utama kecanduan cyber sex adalah
pelaku tidak lagi atau tidak bergairah melakukan hubungan seks secara nyata dan
hanya bisa terpuaskan jika melakukanya di internet. Kondisi ini adalah masalah
psikoseksual yang biasanya terjadi akibat trauma seks di masa lalu.
Sebuah penelitian dilakukan oleh Greenfield dan
ditemukan bahwa rata-rata penderita kecanduan cyber sex adalah pria dengan usia
antara 25 sampai 55 tahun. Mereka sebagian besar memiliki pendidikan tinggi dan berpenghasilan di atas rata-rata.
2.
Perselingkuhan
Bahaya cyber sex yang kedua adalah dapat mengganggu
keharmonisan rumah tangga. Kimberley Young, seorang psikolog di Amerika Serikat
mengatakan bahwa perkawinan yang telah berusia 20 tahun bisa bubar gara-gara
empat bulan melakukan cyber sex, berselingkuh melalui internet. Hal ini
dibuktikan dengan data jumlah pasangan yang bercerai akibat perselingkuhan di
internet yang sangat banyak.
Banyak suami atau istri yang tidak puas dengan
kehidupan seksualnya, mereka kemudian mencoba mencari pasangan seks dan
melakukan cyber sex di internet. Mereka memilih cara ini dengan alasan lebih
aman, tidak saling mengenal, tidak ada interaksi emosional, terhindar dari
penyakit, dan tidak mungkin hamil.
Melakukan cyber sex bukan dengan pasangan yang sah
tentu saja tergolong perselingkuhan, dan seperti halnya perselingkuhan di dunia
nyata, dampaknya bisa menyebabkan perceraian.
3.
Menyebabkan gangguan seksual
Bahaya cyber sex yang terakhir adalah terjadinya
gangguan seksual seperti disfungsi ereksi pada pria.
Stimulasi seks terbagi dua yaitu fisik dan mental. Contoh stimulasi fisik
adalah ciuman, rabaan, pelukan dan melakukan penetrasi seks. Sementara
stimulasi mental adalah pikiran erotis yang membangkitkan gairah seks. Menonton
film porno dan cyber sex tergolong stimulasi mental karena pelibatan pikiran
yang dominan.
Padahal seks yang normal adalah melakukannya dengan
lawan jenis secara langsung. Kata-kata erotis di layar komputer, foto atau
video lawan chating yang merangsang ditambah desahan yang membangkitkan gairah,
tidak bisa mengalahkan nikmatnya berciuman, meraba, memeluk dan melakukan
penetrasi yang nyata dengan lawan jenis.
Cyber sex ibaratnya melakukan seks tanpa penetrasi dan
hanya melibatkan emosi. Dan ditulah letak bahaya cyber sex karena bisa
menimbulkan gangguan seksual. Pria yang terlalu sering melakukan cyber sex bisa
mengalami disfungsi ereksi. Karena telah terbiasa merangsang diri dengan
khayalan maka sistem syaraf tidak merespon dengan baik ketika ada rangsangan
yang nyata dari lawan jenis, akibatnya penis tidak bisa berdiri dengan keras.
Demikian beberapa bahaya cyber sex yang perlu
anda ketahui terutama jika dilakukan bukan dengan pasangan yang sah dan telah
menyebabkan kecanduan. Gunakan internet dengan bijak dan hindari perilaku negatif
selama berselancar di dunia maya.
DAFTAR PUSTAKA :
KINERJA KELOMPOK :
NAMA
|
NPM
|
JOBDESK
|
LINK
|
YESICA
SALWA
|
1C514389
|
Searching
|
|
ANA
NOVIANA
|
18514059
|
Editing
|
http://ananoviana67.blogspot.co.id/2016/01/waktu-update-minggu24-januari-2015-jam.html |
FATMA
ALIASARI
|
14514048
|
Searching
|
http://fatmaaliya69.blogspot.co.id/2016/01/fenomena-fenomena-psikologi-dan.html |
IRTIAH
RIFDA PAWAE
|
15514473
|
rifdasicewekgaul.blogspot.co.id | |
WONDI
DWI SEPTIAN
|
1C514322
|
Kamis, 31 Desember 2015
Fungsi Sosial dari Internet dalam Berinteraksi dengan Individu Lain
PSIKOLOGI KETERTARIKAN INTERPERSONAL DALAM INTERNET
Tanggal Upload & Waktu : 01/01/2016 (00.24 WIB)
Bicara tentang ketertarikan interpersonal dalam internet, Komputer merupakan media komunikasi yang memberikan tempat baru bagi pengaruh keakraban. Kenyataannya, seseorang dengan jarak ribuan mil menjadi tidak berarti dengan adanya internet walau tidak bisa bertemu. Keakraban dan jarak fungsional ditentukan oleh layar komputer. Apakah terdapat perbedaan antara hubungan yang dijalin via computer dibanding dengan yang dibentuk dalam kehidupan sehari-hari? Jawabannya tentu saja iya, karena ketika berjumpa melalui internet, ketertarikan berkembang melalui kualitas percakapan, sedangkan mereka yang berjumpa secara langsung dengan tatap muka ketertarikannya lebih tergantung pada daya tarik fisik (Mc Kenna, Green, & Gleason, 2002). Jika kita bertemu dengan orang baru secara tatap muka kita segera melihat penampilan fisiknya. Sebaliknya, ketika orang bertemu online, mereka dapat menyembunyikan tampangnya dan ciri lain yang mungkin menurunkan daya tariknya, seperti rasa gugup saat berada dalam situasi sosial. Anonimitas internet dapat memudahkan orang untuk mengungkapkan informasi personalnya. Sebagai akibatnya, individu mungkin merasa bahwa mereka lebih mampu mengekspresikan aspek-aspek penting dari diri riil mereka saat berinteraksi melalui internet. Katelyn McKenna dan rekannya (2002) memperkirakan bahwa orang mungkin menjalin persahabatan awal dengan cepat secara online ketimbang melalui tatap muka.
Melalui
internet orang dapat melakukan komunikasi dengan orang lain atau bahkan
dengan beberapa komunitas sekaligus, chatting online dengan fasilitas
beberapa room yang tersedia memungkinkan seseorang dapat berkomunikasi
secara bersama, atau beberapa komunitas website (social networking)
seperti Friendster, MySpace, Facebook, atau Twitter memberikan
kesempatan bagi setiap orang untuk mengekspresikan dirinya ke depan
publik. Beberapa individu lebih merasa dirinya nyaman bila bertemu
dengan teman di dunia maya dibandingkan teman dalam dunia nyata.
Individu yang ketagihan untuk terus chatting dalam menjalin hubungan
dengan orang lain secara online. Kecanduan ini secara bertahap akan
membuat individu tersebut lebih mementingkan orang yang ia kenal melalui
online dibandingkan dalam kehidupan nyata. dari beberapa penelitian
menyebutkan bahwa sebagian besar individu yang terlibat dalam komunikasi
cyberspace (seperti; mailing list, diskusi group, forum, chat rooms,
bulletin boards, dsb) memperoleh pengalaman-pengalaman yang
menguntungkan dalam hubungan sosial, akan tetapi tidak berlanjut pada
kontak sosial yang nyata. Minimnya komunikasi verbal, dimana individu
mencoba memahami teks-teks kalimat yang muncul membuat kondisi tersebut
menjadi sebuah tantangan yang menarik bagi pengguna internet (Huang,
1996). Sebuah hubungan interpersonal didasarkan pada tingkat pemahaman
teks-teks (kalimat) menjadi daya tarik sendiri bagi beberapa orang,
tidak perlu takut dalam mengungkapkan argumentasi, malu dan merasa bebas
dalam mengekspresi dirinya dimana pada kenyataan sehari-hari dalam
dunia nyata adalah hal yang sulit mengungkapkan perilaku tersebut pada
orang asing yang baru kita kenal.
Dalam
beberapa hal, beberapa individu juga cenderung untuk menutup dirinya
dan bersikap bohong, dimana kata-kata teks yang diungkapkan tidak sesuai
dengan perilakunya dalam keseharian, kejadian ini akan terus berlanjut
selama komunikasi di internet terus dilakukannya. Teks juga hanya
memberikan pemahaman yang tidak memadai dalam memahami sebuah kondisi
emosional, kesalahan dalam interpretasi sering terjadi dibandingkan
dengan kondisi nyata (real life). Kondisi-kondisi ini akan menjadi
tantangan bagi pengguna internet untuk terus melibatkan dirinya secara
online lebih mendalam.
Penyebab daya tarik antara individu yang satu dengan yang lainnya adalah :
1. Kedekatan fisik
2. Kesamaan pendapat dan kepribadian, minat dan pengalaman, gaya interpersonal
3. Adanya rasa suka secara timbal balik (reciprocal liking)
4. Daya tarik fisik.
TEORI-TEORI KETERTARIKAN INTERPERSONAL
1. Social Exchange Theory: Gagasan
bahwa perasaan orang tentang suatu hubungan tergantung pada persepsinya
mengenai hasil positif (rewards) dan ongkos (costs) hubungan, jenis
hubungan yang mereka jalani, dan kesempatan mereka untuk memiliki
hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
2. Equity
Theory: Gagasan bahwa orang akan bahagia dengan hubungan yang
dijalinnya bila pengalaman rewards dan costs dan kontribusi antara dua
belah pihak diperkirakan seimbang.
TUJUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL
1. Menemukan Diri Sendiri
Tujuan
komunikasi interpersonal adalah menemukan personal atau pribadi. Bila
kita terlibat dalam pertemuan interpersonal dengan orang lain kita
belajar banyak sekali tentang diri kita maupun orang lain. Komunikasi
interpersonal memberikan kesempatan kepada kita untuk berbicara tentang
apa yang kita sukai, atau mengenai diri kita. Adalah sangat menarik dan
mengasyikkan bila berdiskusi mengenai perasaan, pikiran, dan tingkah
laku kita sendiri. Dengan membicarakan diri kita dengan orang lain, kita
memberikan sumber balikan yang luar biasa pada perasaan, pikiran, dan
tingkah laku kita.
2. Menemukan Dunia Luar
Hanya
komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat memahami lebih banyak
tentang diri kita dan orang lain yang berkomunikasi dengan kita. Banyak
informasi yang kita ketahui datang dari komunikasi interpersonal,
meskipun banyak jumlah informasi yang datang kepada kita dari media
massa, hal itu seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari atau
didalami melalui interaksi interpersonal.
3. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang Penuh Arti
Banyak
dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal diabadikan
untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain.
4. Berubah Sikap Dan Tingkah Laku
Banyak
waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain
dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh menginginkan mereka memilih
cara tertentu, misalnya mencoba diet yang baru, membeli barang tertentu,
melihat film, menulis dan membaca buku, memasuki bidang tertentu dan
percaya bahwa sesuatu itu benar atau salah. Kita banyak menggunakan
waktu terlibat dalam posisi interpersonal.
5. Untuk Bermain Dan Kesenangan
Bermain
mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah mencari
kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai aktivitas kita pada waktu
akhir pekan, berdiskusi mengenai olahraga, menceritakan cerita lucu pada
umumnya hal itu adalah merupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan
waktu. Dengan melakukan komunikasi interpersonal semacam itu dapat
memberikan keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan
rileks dari semua keseriusan di lingkungan kita.
6. Untuk Membantu
Ahli-ahli
kejiwaan, ahli psikologi klinis dan terapi menggunakan komunikasi
interpersonal dalam kegiatan profesional mereka untuk mengarahkan
kliennya. Kita semua juga berfungsi membantu orang lain dalam interaksi
interpersonal kita sehari-hari. Kita berkonsultasi dengan seorang teman
yang putus cinta, berkonsultasi dengan mahasiswa tentang mata kuliah
yang sebaiknya diambil dan lain sebagainya.
EFEKTIFITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Efektivitas
Komunikasi Interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum yang
dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap
mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan
(equality).( Devito, 1997, p.259-264 ).
1. Keterbukaan (Openness)
Kualitas
keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi
interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus
terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti
bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya.memang
ini mungkin menarik, tapi biasanya tidak membantu komunikasi.
Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri mengungkapkan
informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri ini
patut. Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator
untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang
diam, tidak kritis, dan tidak tanggap pada umumnya merupakan peserta
percakapan yang menjemukan. Kita ingin orang bereaksi secara terbuka
terhadap apa yang kita ucapkan. Dan kita berhak mengharapkan hal ini.
Tidak ada yang lebih buruk daripada ketidakacuhan, bahkan
ketidaksependapatan jauh lebih menyenangkan. Kita memperlihatkan
keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap orang lain.
Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran (Bochner dan
Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa
perasaan dan pikiran yang anda lontarkan adalah memang milik anda dan
anda bertanggungjawab atasnya. Cara terbaik untuk menyatakan tanggung
jawab ini adalah dengan pesan yang menggunakan kata Saya (kata ganti
orang pertama tunggal).
2. Empati (empathy)
Henry
Backrack (1976) mendefinisikan empati sebagai ”kemampuan seseorang
untuk ‘mengetahui’ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat
tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain
itu.” Bersimpati, di pihak lain adalah merasakan bagi orang lain atau
merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu
seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan merasakan
perasaan yang sama dengan cara yang sama. Orang yang empatik mampu
memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka,
serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang. Kita dapat
mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun non verbal. Secara
nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan (1)
keterlibatan aktif dengan orang itu melalui ekspresi wajah dan
gerak-gerik yang sesuai; (2) konsentrasi terpusat meliputi komtak mata,
postur tubuh yang penuh perhatian, dan kedekatan fisik; serta (3)
sentuhan atau belaian yang sepantasnya.
3. Sikap mendukung (supportiveness)
Hubungan
interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap
mendukung (supportiveness). Suatu konsep yang perumusannya dilakukan
berdasarkan karya Jack Gibb. Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak
dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung. Kita
memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap (1) deskriptif, bukan
evaluatif, (2) spontan, bukan strategi, dan (3) provisional, bukan
sangat yakin.
4. Sikap positif (positiveness)
Kita
mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi interpersonal dengan
sedikitnya dua cara: (1) menyatakan sikap positif dan (2) secara positif
mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi. Sikap positif
mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi interpersonal.
Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap
positif terhadap diri mereka sendiri. Kedua, perasaan positif untuk
situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang
efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi dengan
orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara
menyenangkan terhadap situasi atau suasana interaksi.
5. Kesetaraan (Equality)
6. Dalam
setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang
mungkin lebih pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih
atletis daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar
setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi
interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya,, harus
ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan
berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting
untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai
oleh kesetaraan, ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai
upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai
kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak mengharuskan
kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan
nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau
menurut istilah Carl rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan
”penghargaan positif tak bersyarat” kepada orang lain.
Daftar Pustaka:
Kinerja Kelompok
NAMA
|
NPM
|
JOBDESK
|
LINK
|
Yesica Salwa
|
1C514389
|
Searching
| |
Ana Noviana
|
18514059
|
Searching
|
http://ananoviana67.blogspot.co.id/2015/12/fungsi-sosial-dari-internet-dalam.html
|
Fatma Aliasari
|
14514048
|
Editing
| |
Rifda Pawae
|
15514473
|
Editing
|
rifdasicewekgaul.blogspot.co.id
|
Wondi Dwi Septian
|
1C514322
|
Langganan:
Postingan (Atom)


